Jakarta – Sorot lampu pernah menjadi rumah bagi Krisna Mukti. Wajahnya akrab di layar kaca, suaranya dikenal, dan kehadirannya kerap membawa kesan tenang. Namun waktu mengajarkan bahwa hidup tak selalu berjalan di satu panggung. Ada fase terang, ada masa meredup, dan ada ruang sunyi yang justru mempertemukan seseorang dengan dirinya sendiri.
“Popularitas itu seperti gelombang. Datang, pergi, lalu kembali dalam bentuk yang berbeda,” ujar Krisna Mukti saat ditemui di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (28/12). Tuturnya tenang, tanpa nada penyesalan.
Perjalanan Krisna di dunia hiburan bukan kisah instan. Ia tumbuh dalam keluarga seniman. Sang ayah, Amin Ivos, dikenal sebagai pemusik dan pencipta lagu legendaris. Musik hadir sejak dini sebagai bahasa kehidupan. “Saya tumbuh dengan suara nada, bukan ambisi,” katanya sambil tersenyum. Bernyanyi, berakting, menjadi model, hingga memandu acara televisi ia jalani sebagai proses, bukan sekadar tujuan.
Nama Krisna mulai melekat di ingatan publik lewat sinetron Aku Ingin Pulang pada akhir 1990-an. Peran itu menjadi pintu bagi sejumlah judul populer lain seperti Azizah, Kasih dan Amara, Aishiteru, hingga Ganteng Ganteng Serigala. Di luar akting, ia juga dikenal sebagai presenter berbagai program televisi, di antaranya Nikah Gratis dan Tak Tik Boom.
“Dunia hiburan itu dinamis. Kadang kita di depan, kadang harus memberi ruang pada yang lebih muda. Saya menikmati semuanya,” ujar alumnus Sastra Belanda Universitas Indonesia ini.
Di tengah perjalanan, Krisna sempat melangkah ke dunia politik. Pengalaman tersebut memberinya perspektif baru tentang hidup dan relasi sosial. Namun ketika pandemi mengubah banyak hal—ritme melambat, kesempatan menyempit—ia memilih kembali menoleh pada panggilan yang sejak awal membentuk dirinya.
Musik menjadi ruang pulang. Lagu-lagu ciptaannya yang lama tersimpan kini mulai digarap kembali. Ia menyanyikan lagu-lagu era 1980-an, menghidupkan kembali nuansa klasik, sekaligus merancang karya personal yang lebih jujur. “Sekarang saya tidak lagi mengejar sorot lampu. Saya ingin menikmati prosesnya,” ungkapnya.
Baginya, usia bukan penghalang untuk berkarya, melainkan penyaring. “Semakin ke sini, saya ingin melakukan hal yang benar-benar saya cintai. Bukan yang memaksa saya menjadi orang lain,” katanya.
Selepas Lebaran, Krisna berencana memusatkan langkah pada dunia musik. Fokus, tenang, dan tidak tergesa. “Kalau satu pintu tertutup, saya percaya pintu lain selalu terbuka. Tinggal kita mau melangkah atau tidak,” ujarnya.
Bagi Krisna Mukti, hiburan bukan hanya tentang tampil di depan kamera. Ia adalah tentang bertahan, menyesuaikan diri, dan tetap setia pada panggilan hati. Panggung boleh berganti, tetapi semangat untuk menyapa hidup melalui seni tetap menyala—dengan cara yang lebih dewasa, lebih jujur, dan lebih damai.
Profil Singkat
Nama: Krisna Mukti
Lahir: Jakarta, 5 Februari 1969
Pendidikan: Sastra Belanda, Universitas Indonesia
Profesi: Aktor, presenter, musisi
Krisna Mukti dikenal sebagai bintang sinetron, presenter, dan model iklan. Ia juga pernah terjun ke dunia politik dan menjadi anggota DPR RI periode 2014–2019 dari Daerah Pemilihan Jawa Barat VII melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dengan perolehan 31.987 suara. Selama di parlemen, ia bertugas di Komisi X yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, pemuda, dan olahraga. NR/frn








