Jakarta – Film horor terbaru berjudul Monster Pabrik Rambut menghadirkan pendekatan berbeda dari kebanyakan film bergenre serupa. Karya sutradara Edwin ini tidak menjadikan sosok hantu atau makhluk gaib sebagai sumber utama ketakutan, melainkan menyoroti tekanan akibat budaya kerja toksik dan sistem kerja yang dinilai tidak manusiawi.
Diproduksi oleh �, film tersebut mengangkat realitas yang dekat dengan kehidupan para pekerja masa kini. Isu mengenai tekanan pekerjaan, lingkungan kerja yang beracun, hingga tuntutan lembur berlebihan menjadi latar utama cerita yang dibangun melalui perjalanan sejumlah karakter, yakni Putri, Ida, Bona, Rudi, dan Tohar.
Sutradara Edwin mengatakan film ini berupaya menghadirkan refleksi mengenai ancaman yang sering kali luput disadari masyarakat.
“Sistem kerja yang tidak manusiawi itulah monster yang sebenarnya. Ada pihak yang mengeksploitasi demi keuntungan pribadi, dan ada yang melanggengkannya dengan membiarkan lembur yang tidak wajar terus berlangsung,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan aktor sekaligus produser eksekutif Iqbaal Ramadhan. Menurutnya, tekanan di lingkungan kerja merupakan persoalan yang dapat dialami siapa saja, tanpa memandang profesi.
“Situasi seperti atasan yang keras, persaingan antar-kolega yang tidak sehat, hingga ekspektasi yang mengorbankan kesehatan fisik dan mental adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Inilah monster yang sesungguhnya,” kata Iqbaal.
Selain mengangkat isu sosial yang relevan, Monster Pabrik Rambut juga menawarkan sejumlah keunikan. Film ini disebut menghadirkan konsep horor yang berfokus pada ketakutan psikologis dan sosial, bukan semata-mata pada kemunculan makhluk supranatural.
Proyek ini merupakan hasil kolaborasi internasional yang melibatkan Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis. Naskah film ditulis bersama sastrawan Eka Kurniawan, sementara seluruh efek visual dikembangkan menggunakan teknik praktikal tanpa bantuan teknologi CGI.
Dalam film ini, rambut digunakan sebagai simbol tekanan mental yang dialami manusia. Kerontokan dan perubahan kondisi rambut digambarkan sebagai manifestasi fisik dari stres serta beban psikologis yang terus menumpuk.
Secara naratif, film mengikuti kisah Putri yang kehilangan ibunya setelah sang ibu bekerja tanpa henti selama beberapa hari. Ketika pihak pabrik menyatakan kematian tersebut sebagai bunuh diri, Ida justru meyakini adanya misteri lain di balik peristiwa tersebut. Upaya mengungkap kebenaran kemudian membawa mereka pada rangkaian teror yang mengancam keselamatan keluarga dan orang-orang terdekat.
Melalui balutan horor fantasi, Monster Pabrik Rambut tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga mengajak penonton meninjau kembali berbagai praktik kerja yang selama ini dianggap normal, meski berpotensi merugikan kesehatan fisik maupun mental pekerja.
Film Monster Pabrik Rambut telah tayang di bioskop seluruh Indonesia sejak 4 Juni 2026.









