Bekasi – Menurut Ketum Forum Penulis dan Wartawan Indonesia (Forum PWI) Rukmana, S.Pd, I., C.PLA., Iran mempunyai sejarah panjang sejak dari zaman kekaisaran Persia hingga sampai di titik Balik Geopolitik di tahun 2026.
“Sejarah Iran bermula dari peradaban kuno negara Persia sebuah negara adidaya yang selama berabad-abad telah menjadi pusat intelektual, budaya, dan kekuasaan di wilayah Asia Barat”, tuturnya.
Negara adidaya ini berdiri sejak zaman kekaisaran Achaemenid hingga kekaisaran Safawi, negeri ini telah memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah dunia. Namun, pada abad ke-20 telah terjadi perubahan yang sangat radikal dalam struktur politik dan sosial negara ini.
Kala itu (1979), terjadi revolusi besar – besaran yang dimotori oleh rakyat Persia dan persamaan Kekuasaan monarki Pahlavi yang dipimpin oleh Shah Reza Pahlavi, gerakan revolusi rakyat Persia ini berdampak pada perubahan politik Persia dan Sistem pemerintahan dari kekaisaran menjadi Republik Islam Iran yang dipimpin oleh para ulama kharismatik Syiah.
Revolusi berdarah itu dipimpin langsung oleh Pemimpin revolusi Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang kemudian dikenal menjadi Icon perubahan (reformasi) dan mengakhiri kekuasaan orde lama dan lahirnya sistem pemerintahan teokratis yang diwajibkan pada hukum Islam dan doktrin velāyat-e faqīh.
Kekuasaan Khamenei & Ketegangan Internasional.
Setelah wafatnya Khomeini pada tahun 1989, Ayatollah Ali Khamenei menggantikan posisinya sebagai Pemimpin Tertinggi jabatan yang secara efektif memiliki otoritas tertinggi atas seluruh cabang pemerintahan, militer, dan kebijakan luar negeri Iran.
Selama hampir empat dekade, Khamenei memperkuat peran ulama dalam pemerintahan dan menjadikan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai pilar utama stabilitas dan kekuatan Iran di dalam negeri maupun di panggung regional.
Era kepemimpinan Khamenei juga ditandai dengan hubungan yang sangat tegang dengan Amerika Serikat dan Israel.
Konflik antara Iran dengan Amerika terkait program nuklir sudah berlangsung cukup lama, Iran dimusuhi karena telah memiliki program nuklir Iran, sebuah langkah yang sangat dibenci Amerika.
Dukungan Teheran kepada kelompok proksi seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza membuat negara ini (Iran red…) diembargo ekonomi secara terus menerus dan hal ini telah melahirkan ketidakpercayaan yang mendalam antara kedua negara (Teheran dan Washington/Jerusalem).
Ketegangan kedua negara ini menjadi pembahasan dalam setiap pertemuan tingkat internasional Upaya diplomasi, termasuk pembicaraan yang dimediasi oleh pihak ketiga, sempat berlangsung dalam kurun waktu 2025 – 2026.
Namun negosiasi tersebut tidak membawa kesepakatan yang permanen, terutama setelah keluarnya AS dari perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) dan meningkatnya tekanan militer serta sanksi ekonomi (embargo) kepada negara – negara yang dianggap membangkang kepada Amerika Serikat.
Gelombang Protes & Ketegangan Domestik
Tahun-tahun terakhir menjelang kematian Ayatollah Khamenei seolah menjadi tanda berakhirnya kekuasaan absolut di dalam negeri Iran itu sendiri.
Krisis ekonomi, melemahnya mata uang riil, dan meningkatnya gelombang sosial memicu gelombang protes besar di berbagai kota Iran pada dekade terakhir tahun 2025 hingga awal 2026 yang kemudian menjadi gelombang Protes yang terbesar sejak Revolusi 1979.
Aksi massa tersebut seperti propaganda jitu bagi kejatuhan Sang pemimpin kharismatik Iran terutama ketika sikap aparat keamanan Iran merespons demonstrasi dengan sikap represif sehingga menimbulkan korban jiwa dan kecaman internasional.
Serangan Militer yang memyebabkan syahidnya Ayatullah Khamenei Februari 2026 telah mengubah peta politik dunia dimana energi (Minyak) dunia yang ada di Iran sepenuhnya berada dalam kendali Amerika Serikat.
Inilah tujuan Amerika Serikat sebenarnya, perang bukan agama, tetapi perang memperebutkan energi dan sumber daya alam karena seperti yang sudah diprediksi oleh para ahli termasuk Presiden Prabowo Subianto, dunia sudah mulai kehabisan sumber daya dan akan terjadi perang dunia ketiga yang meperebutkan energi.
Prediksi sekaligus kekhawatiran kepala – kepala negara di dunia tentang akan terjadinya perang dunia ketiga akhirnya terjadi.
Serangan Amerika Serikat kepada Iran membuktikan bahwa Amerika mempunyai standar ganda dalam politik luar negeri.
Operasi militer oleh Amerika Serikat ini merupakan bagian dari eskalasi konflik yang telah berlangsung lama, hal ini terlihat dari serangan Amerika dan Israel yang terfokus pada menghancurkan jaringan militer serta struktur komando Iran.
Dalam serangan brutal militer Amerika Serikat dan Israel ini dikabarkan telah menghina Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, bersama sejumlah pejabat tinggi dan anggota keluarganya, sebuah serangan yang diselenggarakan dan fokus menyasar Pemimpin Kharismatik Iran itu.
Melalui televisi lokal Pemerintah Iran, Syahidnya Ayatullah Khamenei disiarkan dan dinyatakan sebagai masa berkabung nasional selama 40 hari, serta menyebut Khamenei telah “mencapai syahid” saat menjalankannya.
Seluruh rakyat Iran menangis kelelahan (Syahidnya) pemimpin mereka.
Dampak & Ketidakpastian Politik
Kematian Khamenei menciptakan kekosongan kekuasaan yang belum pernah terjadi sejak tahun 1979, hal ini tentu memicu spekulasi tentang masa depan rezim dan proses suksesi.
Dewan kepemimpinan sementara dan beberapa kandidat potensial tengah dibicarakan oleh otoritas tinggi Iran. Di tengah konflik yang masih berlangsung, ancaman kemungkinan respons militer dari Teheran dan reaksi global terhadap peristiwa ini terus meningkat.
Reaksi Internasional & Tensi Global.
Reaksi dunia (pemimpin – pemimpin negara yang ada dalam PBB) terhadap serangan Amerika dan Israel ke Iran ini berbagai macam: beberapa negara mengecam operasi tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional, sementara pihak lain diperkirakan sebagai eskalasi konflik yang berpotensi membawa perubahan politik di Timur Tengah.
Ancaman terhadap hubungan diplomatik, risiko konflik yang lebih luas dan potensi pecahnya perang dunia ketiga menjadi kekhawatiran masyarakat dunia hari ini.
Selain itu berdampak terhadap pasokan energi global juga membuat dunia berada pada level waspada.








