Ketum HIPNUSA Ungkap Biang Kerok Perumahan Mangkrak, Legalitas hingga Salah Pilih Lahan

BEKASI — Persoalan legalitas lahan, perizinan hingga ketepatan memilih lokasi menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan pengembang sebelum memulai proyek perumahan.
Mengabaikan hal-hal tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko proyek mengalami kendala hingga berujung mangkrak.Hal itu disampaikan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA), Muhamad Aditya Prabowo, S.H., dalam kegiatan “Ngopi” atau Ngobrol Properti bersama HIPNUSA di Hotel Amaris, Kota Bekasi, Minggu (27/9/2026).
Di hadapan puluhan pengurus HIPNUSA dan peserta kegiatan, Aditya menyoroti kecenderungan sebagian developer yang mulai mengabaikan prinsip dasar bisnis properti setelah meraih keberhasilan pada sejumlah proyek sebelumnya.
“Banyak developer terlena dengan kesuksesan proyek pertama, kedua, dan ketiga, kemudian meninggalkan pakem seorang developer,” ujar Aditya.
Menurut Aditya, pengalaman dan keberhasilan sebelumnya semestinya tidak membuat developer mengurangi kehati-hatian ketika menentukan proyek berikutnya.
Setiap lahan yang akan dikembangkan, kata dia, tetap membutuhkan kajian menyeluruh sebelum transaksi maupun pembangunan dilakukan.Salah satu persoalan yang disoroti adalah proses pemilihan lahan. Ketertarikan secara spontan terhadap lahan yang ditawarkan, tanpa didahului pemeriksaan dan perhitungan yang memadai, dapat menjadi persoalan ketika proyek mulai berjalan.
Karena itu, aspek legalitas tanah dan perizinan pembangunan menjadi bagian penting yang harus diperiksa sejak awal. Developer juga perlu memastikan kesesuaian lahan dengan rencana pembangunan serta mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi pemasaran dan penjualan unit.
“Jangan sampai membangun perumahan dekat kuburan atau izin Amdalnya tidak ada. Ini bahaya, penjualan unit akan terkendala,” kata Aditya.
Selain legalitas dan perizinan, faktor lokasi juga menjadi perhatian. Menurutnya, developer perlu memahami karakteristik kawasan, potensi pasar, aksesibilitas, serta berbagai aspek lain yang berkaitan dengan daya tarik sebuah proyek perumahan.Peserta Mulai Tertarik Terjun ke Bisnis PropertiKegiatan “Ngopi Bersama HIPNUSA” tidak hanya diikuti kalangan yang telah berkecimpung di sektor properti.
Sejumlah peserta datang dari latar belakang profesi yang berbeda.Salah satunya Widya, peserta asal Jakarta yang berprofesi sebagai guru PAUD. Setelah mengikuti kegiatan tersebut, Widya mengaku mendapatkan wawasan baru mengenai bisnis properti dan terdorong untuk mempelajarinya lebih jauh.
“Terus terang saya semakin tertarik belajar bisnis properti. Terima kasih kepada Ketum HIPNUSA yang sudah mentransformasi ilmu bisnis properti kepada saya dan pasti saya akan segera action menjadi seorang developer,” ujar Widya.
Dalam kegiatan itu, peserta juga memperoleh materi mengenai cara melakukan penghitungan cepat untuk memperkirakan harga tanah yang menjadi bagian dari perhitungan bisnis pengembangan perumahan.
Materi tersebut menjadi bagian dari pembahasan praktis yang diberikan kepada peserta untuk membantu memahami proses analisis dalam bisnis properti.Sementara itu, Nuriman, seorang wartawan yang turut mengikuti kegiatan, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai bisnis properti.
“Saya merasa kembali bersemangat untuk terjun ke dunia properti. Ini ilmu baru yang saya peroleh dan luar biasa HIPNUSA,” ungkap Nuriman.Melalui kegiatan tersebut, HIPNUSA mendorong peserta untuk memahami bisnis properti tidak hanya dari sisi peluang keuntungan, tetapi juga dari aspek perencanaan, legalitas, pemilihan lahan, perizinan, hingga potensi pasar sebelum sebuah proyek dikembangkan.




