JAKARTA — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Kementerian Agama menggelar gerakan Ekoteologi dan aksi Reduce, Reuse, Recycle (3R) secara serentak di berbagai daerah dalam rangka menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE), Jumat (8/5/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan umat Buddha, aparatur sipil negara Ditjen Bimas Buddha, organisasi keagamaan, hingga lembaga pendidikan keagamaan Buddha. Gerakan dilakukan melalui aksi bersih rumah ibadah, Dhammasekha, perguruan tinggi keagamaan Buddha, pelatihan eco enzyme, serta tradisi Fang Shen di sejumlah wilayah.
Direktur Jenderal Bimas Buddha, Supriyadi, mengatakan gerakan ekoteologi merupakan implementasi nyata ajaran agama dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.
Menurutnya, perayaan Waisak tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan ritual keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat kepedulian sosial dan pelestarian lingkungan.
“Kami menggelorakan semangat menyemarakkan Waisak melalui gerakan sebulan persiapan yang disebut Vesakha Sananda,” kata Supriyadi saat membuka kegiatan di STAB Maha Prajna.
Ia menjelaskan, umat Buddha diajak mengisi masa persiapan Waisak dengan berbagai aktivitas positif yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Gerakan tersebut juga menjadi bagian dari implementasi Surat Edaran Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2025 tentang kepedulian terhadap lingkungan hidup. Salah satu program yang dijalankan yakni pelatihan pembuatan eco enzyme yang puncak kegiatannya dijadwalkan berlangsung pada 10 Mei 2026.
Dalam kesempatan itu, Supriyadi menegaskan pentingnya pengendalian diri dalam pola konsumsi sehari-hari guna mengurangi produksi limbah rumah tangga.
“Menjaga alam adalah bagian dari spiritualitas. Manusia dan alam semesta saling berkaitan sehingga harus dijaga bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Ditjen Bimas Buddha, Triroso, menyampaikan bahwa nilai-nilai ekoteologi sejatinya telah lama tertanam dalam ajaran Buddha dan tercantum dalam berbagai sutta.
Menurutnya, ajaran Buddhis menekankan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan sebagai bagian dari praktik kehidupan berkesadaran.
Triroso menyampaikan hal tersebut saat mengikuti aksi bersih lingkungan di Vihara Indraloka.
Apresiasi terhadap kegiatan itu juga datang dari Ketua Vihara Dhamma Metta, Sukarya. Ia mengaku bersyukur atas dukungan Kementerian Agama terhadap kegiatan kebersihan lingkungan, tradisi Fang Shen, hingga bantuan perlengkapan kebersihan bagi rumah ibadah.
Secara nasional, gerakan Ekoteologi dan aksi 3R tersebut dilaksanakan di sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, dengan melibatkan berbagai elemen umat Buddha dan organisasi keagamaan.








