Kota Bekasi – Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kota Bekasi, Sugono, S.E., S.H., C.Med., Sp.Tn., kembali menjadi narasumber dalam kegiatan sinergitas Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) yang kali ini digelar di Pendopo Kantor Kecamatan Bekasi Selatan, Kamis (7/5/2026) pagi.
Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 09.30 WIB tersebut dihadiri Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Bekasi, Heni Setiowati, Danramil 01/Kranji Taufik Ismail, Kepala KUA Bekasi Selatan Nurcholis, unsur Forkopimcam, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat Kecamatan Bekasi Selatan.
Dalam pemaparannya, Sugono menegaskan bahwa kondusivitas wilayah tidak hanya diukur dari tidak adanya aksi demonstrasi atau tindak kriminalitas, tetapi juga dari rasa aman dan nyaman yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, terdapat sejumlah indikator penting dalam menciptakan wilayah yang kondusif, seperti keamanan lingkungan, kenyamanan masyarakat saat beraktivitas, hingga keharmonisan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kalau masyarakat masih merasa aman keluar malam, tidak ada rasa takut, masyarakat bisa bergaul dengan baik dan hidup berdampingan secara harmonis, itu menjadi indikator bahwa wilayah tersebut kondusif,” ujarnya.
Sugono menjelaskan bahwa dalam menjaga stabilitas wilayah diperlukan sinergi seluruh unsur, termasuk Forkopimda, Forkopimcam, serta FKDM sebagai mitra strategis pemerintah dalam deteksi dan kewaspadaan dini terhadap potensi gangguan keamanan.
Ia juga memaparkan empat unsur penting dalam kewaspadaan dini masyarakat, yakni ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG).
Menurutnya, ancaman tidak hanya berbentuk aksi terorisme atau kerusuhan fisik, tetapi juga ancaman sosial yang tidak terlihat secara langsung, seperti penyebaran hoaks dan provokasi di media sosial.
“Hoaks itu ancaman luar biasa. Kadang masyarakat menerima informasi yang belum jelas, lalu langsung menyebarkannya. Tanpa sadar justru ikut menjadi provokator yang memicu konflik sosial,” kata Sugono.
Ia menambahkan, eskalasi informasi yang tidak benar dapat menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat apabila tidak disikapi secara bijak.
Selain itu, Sugono juga menyoroti tantangan sosial yang muncul akibat sikap individualistis, rendahnya kemauan untuk mendengar pendapat orang lain, hingga pola pikir yang ingin menang sendiri.
“Kalau semua merasa paling benar dan tidak mau mendengar orang lain, itu bisa menjadi tantangan besar dalam kehidupan bermasyarakat,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sugono turut menyinggung persoalan hambatan pelayanan publik yang kerap dikeluhkan masyarakat. Namun ia menilai, persoalan tersebut juga harus diimbangi dengan pemahaman masyarakat terhadap prosedur dan aturan yang berlaku.
Sementara terkait gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat, Sugono mencontohkan aksi demonstrasi yang berpotensi mengganggu aktivitas publik apabila tidak dikelola dengan baik.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penyampaian aspirasi merupakan hak masyarakat selama dilakukan secara tertib, damai, dan tidak menimbulkan kerusakan.
“Demo itu hak masyarakat, tetapi harus tetap sopan, tertib, dan tidak merusak. Di sinilah pentingnya peran FKDM dalam membantu menjaga situasi tetap kondusif,” jelasnya.
Menutup paparannya, Sugono mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya menyampaikan kritik kepada pemerintah, tetapi juga turut memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar.
“Jangan hanya menyalahkan atau mengkritik. Kita juga harus ikut memberikan solusi demi menjaga kondusivitas wilayah bersama,” pungkasnya.








